Syaikh Al-Albani & Guru-gurunya

Minggu, 07 Februari 2010


Dapat Hidayah Lewat Majalah

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani pernah menceritakan awal mula beliau mendapat hidayah untuk menekuni sunnah dan mempelajarinya yang hal ini terjadi pada saat beliau kurang lebih berusia dua puluh tahun.

Beliau berkata, “Suatu hari aku melihat salah satu edisi majalah al Manar di antara sejumlah buku yang terpampang di salah satu toko buku. Akhirnya majalah tersebut aku buka-buka. Di majalah tersebut aku jumpai suatu artikel yang ditulis oleh Sayid Rasyid Ridha yang berisi deskripsi buku Ihya Ulumuddin karya al Ghazali. Dalam artikel tersebut penulis menyebutkan sisi-sisi positif dan negatif yang dimiliki oleh buku tersebut. Itulah pertama kalinya aku membaca suatu tulisan yang memuat kritikan ilmiah. Artikel tersebut mendorongku untuk membaca semua artikel yang ada di edisi tersebut.

Kemudian aku berusaha untuk mengikuti topik takhrij (telusur hadits) al Hafizh al Iraqi untuk kitab Ihya Ulumuddin. Aku ingat ketika itu aku berusaha untuk menyewa edisi majalah tersebut karena aku tidak punya uang untuk membelinya. Aku demikian tertarik dengan takhrij hadits yang demikian jeli itu sehingga aku bertekad bulat untuk menyalinnya”.

Pada akhirnya, Syeikh al Albani menyalin kitab tersebut yaitu takhrij ihya karya al Iraqi yang judul lengkapnya adalah al Mughni ‘an Hamli al Asfar fi al Asfar fi Takhrij maa fi al Ihya min al Akhbar. Beliau salin buku tersebut dengan tulisan beliau yang bagus dan teliti. Beliau susun bagian-bagian buku tersebut dengan sangat bagus. Inilah aktivitas beliau yang pertama terkait dengan hadits. Salinan takhrij Ihya ini masih ada di perpustakaan pribadi beliau hingga saat ini.

Mulai dari sinilah Syeikh al Albani memiliki hubungan yang erat dengan majalah al Manar dan artikel-artikel seputar hadits yang ada di dalamnya. Beliau sangat tertarik dengan artikel-artikel tersebut yang akhirnya mendorong beliau untuk tertarik dengan ilmu hadits, cinta dengan buku-buku hadits dan sangat perhatian untuk mempelajari dan mengkaji buku-buku hadits dengan penuh semangat.
Beliaupun berhasil menguasai ilmu hadits dengan sebab anugrah yang Allah berikan berupa pikiran yang tokcer, kecerdasan yang jarang dijumpai dan ketekunan yang luar biasa.

Jika beliau sudah mendapatkan uang yang memadai kebutuhan pokok beliau dari pekerjaan yang beliau tekuni yaitu reparasi jam, beliau berhenti bekerja lalu menyibukkan diri dengan ilmu. Kedai reparasi jam beliau pun berubah menjadi tempat pertemuan para penuntut ilmu.

Subhanallah, bagaimana mungkin ilmu hadits bisa menguasai hati dan pikiran pemuda ini padahal dia tumbuh besar di lingkungan yang semarak dengan ilmu dan ketaatan dalam beragama namun demikian fanatik dengan mazhab fiqh tertentu. Bahkan ayahnya sendiri ketika melihat ketekunan beliau mempelajari ilmu hadits berkomentar, “Hai Muhammad, ilmu hadits adalah kesibukan orang-orang yang bangkrut”.

Ketika ahli sejarah dan pakar hadits dari negeri Halb, Suria yaitu Syeikh Muhammad Raghib al Thabakh melihat betapa menonjolnya pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani dan ketekunannya untuk mempelajari ilmu hadits beliau memberikan kepada pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani ijazah untuk semua kitab hadits yang beliau miliki ijazahnya. Daftar buku-buku hadits yang beliau ijazahkan disebutkan dalam buku tipis yang ditulis oleh beliau sendiri yaitu Muhammad Raghib al Thabakh yang berjudul al Anwar al Jaliyyah fi Mukhtashar al Atsbat al Halabiyyah.

Yang dimaksud ijazah dalam hal ini adalah izin seorang guru kepada muridnya untuk mengajarkan buku yang pernah dipelajari oleh sang guru dari guru dan demikian seterusnya sampai kepada penulis buku tersebut.

Bukanlah rahasia lagi bahwa Syeikh al Albani sering berkata tentang ijazah yang pernah beliau dapatkan ini, “Ijazah tersebut sedikitpun tidaklah menarik perhatianku. Ijazah tersebut hanya aku gunakan untuk membantah orang-orang yang dengki” (Lihat Muhaddits al ‘Ashr karya Sumair bin Amin az Zuhair hal 13-14, terbitan Dar al Mughni).


http://ustadzaris.com/dapat-hidayah-lewat-majalah

Read More...

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi

Sabtu, 06 Februari 2010

Ditulis Oleh: Al Aisar


Beliau adalah Shaikh ' Abdul-'Aziz Bin ' Abdillaah Bin ' Abdir-Rahmaan Ar-Raajihee

Beliau dilahirkan di kota Al-Bukairiyah, bagian dari Wilayah Qaseem ( Saudi Arabia) pada tahun 1360 H . Beliau tumbuh kota Al-Bukairiyah dan belajar/menuntut ilmu dari Ulama-ulama di Kotanya. beliau menghafalkan Qur'an dan mempelajarinya dari tingkat awal . Shaikh Ar rajihi tumbuh di dalam keluarga yang saleh. Kemudian, ia pindah ke kota Riyadh dan mendaftarkan diri untuk belajar di Universitas Imaam Muhammad Su'ud dalam jurusan Syariah,. Beliau kemudian lulus kemudian mengajar di jurusan Usuluddin, beliau sampai menjabat asisten profesor di jurusan ini.

Beliau berguru kepada sejumlah ulama di Al Bukairiyah dan sejumlah ulama senior di Riyadh, diantaranya :

1. Shaikh ' Abdul-'Aziz bin Baaz –-rahimahullah- .Syaikh Al rajihi belajar dan mendampingi syaikh bin Baaz dimulai dari saat Syaikh bin Baaz datang ke Riyadh dari Madinah hingga Syaikh Bin Baaz wafat- semoga Alloh Azza wa Jalla merahmati beliau- . Syaikh Ar rajihi banyak mengambil manfaat dari kebersamaanya dengan Syaikh bin Baaz--rahimahullah- diantaranya cara syaikh bin baaz –-rahimahullah- mengajar dan menjelaskan kitab-kitab dari ulama yang sedang beliau ajarkan.

2. Shaikh ' Abdullaah bin Humaid , beliau adalah ketua hakim agama (qodhi) ketika itu.

Syaikh Ar rajihi sangat bersemangat dan aktif dalam mendidik dan mendakwahkan ilmu. Diantaranya dengan meneliti kitab-kitab dan juga membimbing karya ilmiyah mahasiswa-mahasiswa yang akan menempuh ujian master dan doktor di bidang akidah dan perbandingan agama di tempat beliau mengajar. Selain itu beliau juga sibuk memberikan tahqiq dari kitab Syaikhul islam Ibnu taimiyyah -rahimahullah- yaitu “ Al Bayaan Talbis Al Jahmiyyah” ,kitab ini akan segera terbit, Insya Alloh demikian pula beliau sedang mentahqiq dan meneliti kumpulan syi’ir dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah yang berjudul “Al Kaafiyah As Shaafiyah.”
Jadual setiap mingga Syaikh Ar rajihi sangat padat, beliau memgajar beberapa kitab dalam setiap hari dalam seminggu, diantaranya :

1. Ahad, Senin, Rabu dan kamis, beliau mengajar setelah Sholat shubuh di Masjid Sultan di Rabwah .

2. Ahad, dan senin setelah Sholat Maghrib beliau mengajar di Masjid Rajihi.
Beliau juga berceramah di radio, yang sebelumnya telah direkam dari kantor beliau di Rabwah setiap hari jumat.

Beliau juga aktif ikutserta dalam seminar-seminar pendidikan/dakwah di Kota Riyadh. Beliau juga memberikan pelajaran di Masjidil haram.

Kitab-kitab yang telah dan sedang beliau baca dan ajarkan dalam majelis beliau (yaitu untuk keperluan hafalan, kajian kitab, lughoh dalan lainnya) yaitu :

1. Hadits:

Saheeh Al-Bukhaari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawood, Sunan At-Tirmidzi,Sunan An-Nasaa’i, Sunan Ibn Maajah, the Muwatta’ Imaam Maalik, Sahih Ibn Khuzaimah, Bulughul-Maraam, and Riyadh-us-Saalihin, Nukhbatu ul Fikr

2. Aqidah

Kitaab at-Tawhid dan semua risalah Imam Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- Kitaab at-Tauhid Imam Ad-Daarimi dan Kitab At Tauhid Imam Ahmad; Risalah al-Hamawiyyah, at-Tadmuriyyah, al-‘Aqidah al-Waasitiyyah dan Majmu Fataawaa Shaikh-ul-Islaam Ibn Taimiyyah; Al-‘Aqidah as-Safariniyah; Al-‘Aqidah at-Tahaawiyyah, dan Lum’at-ul-‘Itiqaad

3. Tafsir

Tafsir Ibn Katsir

4. Fiqh:

‘Umdat-ul-Fiqh; Al-Waraqaat

5. lughoh bahasa arab:

Ar-Rahbiyyah; Al-Ajroomiyyah

Sebagai catatan:

Cukup satu saja sebagai rujukan yang membuktikan keilmuan beliau yakni di dalam pendahuluan kitab karya Syaikh rabi bin hadi Al madkhali,”Metodologi Ahlus Sunnah dalam mengkritik individu, buku dan aliran “. yang judul aslinya adalah : Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah fi Naqdir rijal, wa Al Kutub Wa thaifah” . dalam pendahuluan kitab ini dapat diketahui tingginya kedudukan beliau dan kedekatannya dengan para ulama. yakni ketika Syaikh Robi meminta Syaikh Abdul Aziz bin Baaz melalui surat beliau untuk meneliti dan mengomentarai naskah kitabnya tersebut (sebagaimana kebiasaan para ulama ketika setelah menulis buku, maka meminta kepada ulama yang lebih berilmu dan senior untuk memberikan komentar dan koreksi terhadap tulisannya –red), namun Syaikh Abdul Aziz bin Baaz meminta Syaikh Ar Rajihi untuk mengoreksi,review,muroja’ah dan meringkasnya dengan ringkasan yang bagus kitab karya syaikh Robi ini dan memberikan hasil penilaiannya kepada Syaikh Bin Baaz -rahimahullah-

Setelah Syaikh Ar rajihi meringkas dan mengoreksi kitab ini kemudian menyerahkan kembali ke Syaikh bin Baaz -rahimahullah- , Syaikh Abdul Aziz bin Baaz membalas surat permohonan syaikh Robi dengan perkataan,” Saya memberikan rekomendasikan kepada anda berupa risalah jawaban dari Syaikh Abdul Aziz Ar rajihi mengenai naskah kitab anda “Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah fi Naqdir rijal, wa Al Kutub Wa thaifah “ Saya telah mempersilahkan beliau untuk mengoreksinya karena tidak ada kesempatan bagiku (karena sibuk-red) untuk mengoreksinya. Jawabannya membuat saya senang, dan saya senang dengan apa yang anda tulis didalamnya.”

Dari sini dapat disimpulkan :

1.Shaikh Ar-Raajihi memiliki hubungan yang erat dengan ulama-ulama senior

2. Imaam Ibn Baaz percaya atas kemampuan beliau

3. Shaikh Ar-Raajihi memiliki manhaj dan aiqdah yang lurus

Kecintaan beliau terhadp Ilmu dan semangat beliau untuk memberikan nasehat, murojaah terhadap tulisan ulama lainnya

Saat ini beliau masih sibuk mengajar dan berdakwah, serta menjadi anggota Hai’ah Kibarul Ulamaa, Semoga Alloh Azza wa Jalla tetap menjaga beliau.


lebih lanjut link saja ke www.sh-rajihi.com


http://al-aisar.com/content/view/157/414/

Read More...

Syaikh Robi dan Syaikh Al-Albani

Sabtu, 30 Januari 2010


MASALAH MENGANGKAT TANGAN

DALAM TAKBIR SHOLAT JENAZAH


Berikut ini pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Robi’ Al-Madkholy hafizhohullah seputar masalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan selamat membaca.

Pertanyaan : Apakah anda menshohihkan hadits Ibnu Umar dalam masalah mengangkat tangan pada sholat jenazah secara marfu’?

Jawaban : Insya Allah, hadits yang dimaksud dinyatakan memiliki ‘illah oleh Ad-Daaruquthni dan diikuti oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dihasankan oleh Syeikh Ibnu Baaz. Kami telah melakukan pengkajian atas hadits ini, dan kami mendapatkan bahwasanya derjatnya hasan atau sampai ke derjah shihhah. Karena yang memarfu’kannya adalah Umar bin Syaibah. Ad-Daaruquthny berkata, “Dia diselisihi oleh yang lainnya”. Kami telah mengkaji penyelisihan ini maka kami tidak mendapatkan pengaruhnya terhadap riwayat Umar bin Syaibah.

Pertama : Ad-Daaruquthny tidak menyebutkan nama-nama perawi yang menyelisihi.

Kedua : dia - yakni Ibnu Syaibah - adalah perawi yang tsiqoh atau shoduuq. Yang zhohir dia adalah tsiqoh. Jadi hadits ini Tsabit - Insya Allah - juga diperkuat oleh beberapa atsar. Di antaranya atsar Abdullah bin Umar dan Umar bin Abdul Aziz dan sebagian salaf. Ini bisa memperkuat hadits sekalipun dia hadits mursal atau ada sedikit kelemahan padanya, apalagi kalau hadits itu Tsabit.

Syeikh Al-Albany adalah syeikh kami semoga Allah merahmatinya. Akan tetapi manhaj salaf adalahnya bahwasanya kebenaran itu lebih besar dari seorang manusia siapapun dia. Al-Albany ini adalah orang yang kami cintai, syaikh kami dan dia punya jasa-jasa yang besar. Akan tetapi apabila dia keliru kita menolak kesalahannya dan tidak menerimanya, kita membantahnya dengan penuh adab serta menghormati.

Hadits yang dimaksud, dinyatakan memiliki ‘illah oleh Ad-Daruquthny dengan waqof (mauquuf). Di sini bertentangan antara riwayat mawquuf dan marfu’, apa yang akan engkau lakukan apabila bertentangan antara hadits marfu’ dan mauquf? Kita lihat dalil-dalil yang ada lalu kita rajihkan apa yang rajih menurut dalil-dalil.

Di sini bertentangan antara mawquf dan marfu’, lalu kita dapatkan bahwasanya rofa’ lebih rojih dari waqof dan didukung oleh atsar-atsar.

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya dia mengangkat kedua tangannya apabila menyolatkan jenazah. Kami dapatkan hadits-hadits yang dijadikan pegangan oleh Syaikh Al-Albany dho’if . hadits-hadits tersebut disebutkan di Sunan Ad-Daaruquthny rahimahullah, antara lain :

Hadits Abu Hurairah di dalamnya ada dho’fun syadiid (kelemahan yang sangat) dan hadits Abdullah bin Abbas juga padanya ada dho’fun syadiid, tidak kuat untuk melawan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhu dan atsar-atsar yang menguatkannya.

Dulu saya memegang mazhab syaikh Al-Albany rahimahullah. Kemudian saya mempelajari hadits itu lalu saya merobah pendapat saya.

Suatu malam beliau (Syaikh Al-Albany rahimahullah) sholat di sampingku di masjid Nabawy di bagian luar masjid. Kami menyolatkan jenazah. Beliau tidak mengangkat tangan sedangkan saya mengangkat tangan, saya berada disampingnya. Setelah sholat saya berkata kepadanya, “Syaikh kami, dulu saya mengikut pendapatmu kemudian saya menyelisihi pendapatmu”. Beliau berkata, “Baiklah”. Lalu saya mengemukakan kepadanya sebagian hujjah-hujjah dan dalil-dalilku, dan ia menerimanya dengan penuh ada dan menghargai - semoga Allah merahmatinya -. Sesudah itu ia mengisyaratkan kepadaku di dalam kitabnya Ahkaamul Jana-iz, di situ ia mengatakan, “Dan sebagian orang yang mulia berpendapat begini dan begini”. Inilah isyarat kepada pendapat saya.

Kemudian saya melihat syaikh Muhammad Abdul Wahhab Al-Washoby hafizhohullah tidak mengangkat tangan. Saya mendiskusikan masalah itu dengannya. Ia bersikeras mempertahankan pendapatnya. Lantas kami pergi ke Perpustakaan untuk mengkaji hadits tersebut. Sehingga akhirnya ia juga menghukumi keshahihan hadits Umar bin Syaibah [1]

Ahli hadits berjalan bersama kebenaran - Insya Allah - tanpa mengurangi cinta dan penghormatan sesama mereka. Perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka bukanlah permusuhan. Apabila mereka di atas satu akidah dan manhaj kemudian ada yang salah tidak keluar dari lingkaran pahala. Seorang mujtahid jika ia benar ia mendapatkan dua pahala dan jika ia keliru ia mendapatkan satu pahala. Oleh karena itu kita melihat ahli hadits semenjak terbitnya fajar sejarah berbeda pendapat dalam masalah-masalah seperti ini. Mengkritisi pendapat-pendapat dan orang-orang yang keliru, akan tetapi dengan ada dan penghormatan tanpa mencela, mencaci dan menghinakan, karena tujuan mereka adalah nasehat dan menyampaikan kebenaran.

Terakhir, kami wasiatkan kepada anda semua agar bertakwa kepada Allah, dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, mendalam dan bersabar. Kemudian mengamalkan apa yang telah kalian ketahui serta menerapkan itu dalam kehidupkan kalian dan menyebar-luaskannya.

Setiap kalian apabila kembali ke kampung halamannya termasuk dalam firman Allah Tabaaroka wa Ta’ala,

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدِّين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلَّهم يحذرون

Artinya, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At-Taubah : 122)

Ahli bid’ah bukanlah fuqoha’ dan bukanlah orang-orang yang memberi nasehat akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang berkhianat. Mereka pulang kepada umat mereka malah menambah kerusakan.

Adapun kalian, pulanglah sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan. Terapkan ayat ini dan apa-apa yang terkandung di dalam maknanya.

Tentunya kalian tahu keutamaan penuntut ilmu, bahwasanya malaikat menurunkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena ridho terhadap apa yang mereka perbuat.

Hormatilah ilmu .. hormatilah malaikat. Saya yakin malaikat tidak akan menaungi ahli bid’ah dan hawa sama sekali tidak. Karena ini termasuk tolong-menolong atas dosa dan permusuhan, mereka tidak akan melakukan itu.

Pahamilah ini. Dan jagalah keistimewaan ini. Saya berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Ia meridhoi kalian, dan malaikat mencintai kalian serta semoga Allah meninggikan derjat kalian.

Allah Ta’ala berfirman,

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Artinya, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Al-Mujaadilah : 11)

Janji ini tidak termasuk di dalamnya ahli bid’ah. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama, sesungguhnya setiap perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.

Dan jangan lupa apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang Ibnu Abi Qotiilah ketika ia mengatakan, “Ahli hadits adalah kaum yang buruk”. Ahmad berkata, “Orang ini zindiq, zindiq”. Lalu beliau masuk dan mengunci pintunya. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Karena dia (Imam Ahmad) mengerti maksud perkataan Ibnu Abi Qotiilah”.

Ia mencela ahli hadits dan ahlus sunnah untuk menjatuhkan hadits. Berapa banyak orang yang mengaku di atas sunnah dia malah mencela ahlus sunnah, ahli hadits dan tauhid. Waspadailah mereka dan berusahalah membuat Allah ridho terhadap amalan kalian, serta berusahalah untuk ikhlas sehingga malaikat akan menghormati kalian dan meletakkan sayapnya untuk kalian. Karena ilmu itu adalah ilmu nabawy yang berasal dari Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama. Barangsiapa yang menuntutnya karena Allah dan mengikhlaskan niatnya dalam itu ia akan mendapatkan kemuliaan ini dari Allah. Sebaliknya barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya, maka ini membuat Allah Tabaaroka wa Ta’ala murka, kita memohon keselamatan kepada Allah.

Kita bersama kebenaran. Yang keliru sekalipun dari ulama sunnah kita tidak menerima kesalahannya, kita hanya menerima kebenaran. Namun tidak dengan cara yang bodoh dan permusuhan. Akan tetapi dengan menjaga adab, saling menghormati, jujur dan ikhlas.

Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kalian dan meluruskan langkah kalian serta meneguhkan kita semua di atas sunnah dan menjauhkan kita semua dari fitnah-fitnah yang zhohir maupun batin.

Sesungguhnya Robb kita benar-benar Maha mendenga doa [2].


Sumber : kaset “Syariith Liqo’ Manhaji haditsi ma’a Thullabil ‘Ilmi di Makkah”. (diterjemahkan dari situs : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=362482)



[1]. Ulama-ulama lain yang berpendapat disyari’atkannya mengangkat tangan dalam setiap takbir sholat jenazah di antaranya : Imam An-Nawawy (Al-Majmu’ : 5/26), Ibnu Qudaamah (Al-Mughni 2/119), Ibnul Qoyyim (Zaadul Ma’ad 1/443), Ibnu Baaz sebagaimana dalam ta’liqnya atas Fathul Bari (3/266), Ibnu Utsaimin (Syarhul Mumti’) dan Al-Fauzaan dalam Al-Mulakh-khosh Al-Fiqhy semoga Allah merahmati semuanya.

Adapun Ulama-ulama yang berpendapat itu tidak disyari’atkan antara lain : sebagian ulama mazhab malikiyyah, bahkan ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam mazhab maliki (Al-Mudawwanah1/169). Mazhab Azh-Zhohiriyyah sebagaimana disebutkan Ibnu Hazm (Al-Muhalla 5/128), dan Syaikh Al-Albany memilih pendapat ini karena beliau melemahkan riwayat Ibnu Umar (Irwa-ul Gholil 3/122, Ahkamul Janaiz 148, Tamamul Minnah 348) dan pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad ahli hadits Madinah Nabawiyyah (Kutub wa Rosail Abdul Muhsin 5/260) dan Syaikh Yahya Al-Hajury (It-Tihaaful Kiroom fi Ajwibati Ahkaamiz Zakaati wal Hajji wash Shiyam 404). (penerjemah)

[2]. Subhanallah …begitulah para ulama ketika berbeda pendapat, penuh adab, akhlak dan saling menghormati. Akhlak yang patut diteladani oleh penuntut ilmu dalam mensikapi perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah. Tidak ta’ash-shub (fanatic) sekalipun kepada gurunya. Saya teringat perkataan Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, “Tetaplah bersama Al-Qur’an dimanapun ia berada. Dan siapa yang datang kepadamu dengan membawa kebenaran maka terimalah darinya sekalipun dia seorang jauh darimu dan engkau benci. Dan siapa yang datang kepadamu dengan membawa kebatilan tolaklah ia sekalipun ia adalah seorang yang dekat denganmu dan sangat engkau cintai”.(dinukil dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qoyyim). - penerjemah - .

http://abuzubair.net/?p=206

Read More...

Syaikh Muhammad Ismail Al-Muqaddam


Mungkinkah Seorang Sarjana iImu Umum

Bisa Menjadi Ulama?


Ada yang beranggapan itu suatu yang mustahil karena orang tersebut terhitung ‘agak telat’ untuk mendalami dan mengkaji ilmu-ilmu Islam yang demikian luas. Namun survai membuktikan tidak benarnya asumsi semacam ini. Pada zaman ini tidak sedikit kita jumpai para ulama ahli sunnah yang memiliki latar belakang ilmu umum. Di antaranya adalah Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Musthofa al Muqaddam.

Beliau adalah salah seorang ulama ahli sunnah di Mesir. Beliau lahir di kota Iskandariah, Mesir pada awal bulan Dzulqa’dah tahun 1371 H atau 26 Juli 1952.

Beliau adalah seorang pemegang ijazah S1 di bidang kedokteran dan bedah dari fakultas kedokteran Universitas Iskandariah, diploma kesehatan kejiwaan (baca: psikologi) dari Ma’had ‘Ali li al Shihah al ‘Ammah, Universitas Iskandariah. Di samping itu beliau juga menyandang gelar Lc di bidang hukum Islam dari Universitas al Azhar. Beliau juga salah seorang anggota Jum’iyyah Al ‘Alamiyyah al Islamiyyah li al Shihhah al Nafsiyyah (Organisasi Dunia Islam untuk Kesehatan Jiwa).

Beliau bergabung dengan Jamaah Anshor al Sunnah (sebuah organisasi ahli sunnah yang berpusat di Mesir) di kota Iskandariyyah sejak tahun 1965. Beliau mulai menjadi penyebar dakwah ahli sunnah salafiyyah sejak tahun 1972. Pada tahun 1977 di kota Iskandariah beliau mendirikan sekolah al Salafiyyah. Beliau memberikan kajian ilmiah di berbagai propinsi di Mesir di samping beberapa negara Arab, Eropa dan USA.

Di antara guru beliau dari kalangan ulama Jamaah Anshor Sunnah adalah Syeikh Muhammad Sahnun, Syahin Kasyif Abu Ras dan Abdul Aziz bin Rasyid al Najdi. Sedangkan guru-guru beliau ketika belajar di Azhar di antaranya adalah Syeikh Ismail Hamdi, Mahmud Ied, Shubhi al Khasysyab dll.

Di antara ulama yang beliau mendapatkan kehormatan sehingga bisa bertemu atau duduk di majelis kajiannya adalah Syeikh Abdur Razaq Afifi, Abdullah bin Humaid, Ibnu Baz, Muhammad Nasiruddin al Albani, Hammad bin Muhammad al Anshari, Abdullah bin Quud, Ibnu Utsaimin, Abdullah bin Muhammad al Ghunaiman, Abdullah bin Jibrin, Abu Bakr al Jazairi, Rabi bin Hadi al Madkhali, Muqbil bin Hadi al Wadii, Sayyid Sabiq, Dr Mushthofa Hilmi, Muhammad Rasyad Salim dan Rasyad Ghanim.

Di antara buku-buku karya beliau adalah Tamamul Minnah bil Radd ‘ala A’dais Sunnah (nikmat yang sempurna sebagai bantahan bagi para musuh sunnah Nabi), Adillah Tahrim Halqi al Lihyah (dalil-dalil tentang haramnya memangkas habis jenggot), Adillah Tahrim Mushafahat al Ajnabiyyah (dalil-dalil tentang haramnya berjabat tangan dengan perempuan yang bukan mahrom), ‘Uluww Himmah (Obsesi yang tinggi), Bid’ah Taqsim ad Din ila Qasyrin wa Lubbin (bid’ahnya pembagian agama menjadi kulit dan isi/substansi agama), Khid’ah Harmajidun (tipuan perang Armagedon) dan seri Audatul Hijah (kembalinya hijab) yang terdiri dari tiga jilid, jilid pertama berjudul Ma’rakah al Hijab wa al Sufur (Konflik antara bercadar atau tidak), jilid kedua berjudul al Mar’ah baina Takrim al Islam wa Ihanah al Jahiliyyah (perempuan antara pemuliaan Islam dan penghinaan jahiliyyah) dan jilid ketiga berjudul Adillah al Hijab (dalil-dalil wajibnya cadar).

Beliau juga memiliki kurang lebih 1500 kaset rekaman kajian-kajian rutin beliau di beberapa masjid di kota Iskandariah.

Di antara kajian beliau adalah tentang tafsir al Qur’an. Di forum ini beliau mengkaji dua kitab tafsir yaitu Mahasin al Ta’wil karya al Qasimi dan Adwa-ul Bayan karya Syinqithi, fiqh dengan mengkaji kitab Manar al Sabil (sebuah buku fiqh mazhab Hambali), kajian akidah dengan membahas seri al Aqidah fi Dhou’ al Qur’an wa al Sunnah karya Dr Umar al Asyqar.

http://ustadzaris.com/mungkinkah-sarjana-umum-menjadi-ulama

artikel terkait :

Read More...

Syaikh Salim Ath-Thawil dan Syaikh Ibn Utsaimin

Syaikh Salim Sa'ad Ath-Thawil

Ulama pun Bisa Bercanda

Dua tahun sebelum Syaikh Ibnu Utsaimin meninggal Syaikh Salim bin Sa’ad ath Thawil, salah seorang murid Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Seiring dengan memuji Allah, aku memiliki hubungan yang istimewa dan terus-menerus dengan Syeikh Ibnu Utsaimin. Hubungan ini terus terjalin kurang lebih selama delapan tahun. Setelah aku kembali ke Kuwait dan lulus dari Universitas Ibnu Suud pada tahun 1407 atau 1987 hubunganku dengan beliau tidak pernah putus baik berupa kunjungan, komunikasi via telepon ataupun korespondensi.

Aku kembali menemui beliau pada tahun 1410 atau 1990 yaitu saat invasi Iraq ke Kuwait. Begitu melihatku, beliau menyambutku dengan sambutan yang luar biasa. Beliau bertanya kepadaku tentang keadaan Kuwait dan penduduknya. Beliau pun berdoa agar Allah menjaga orang tuaku dan keluargaku secara khusus serta penduduk Kuwait secara umun agar terjaga dari cobaan yang demikian besar tersebut.

Setelah itu beliau mengundangku secara khusus untuk makan siang di rumah beliau. Kupenuhi undangan beliau. Yang menemaniku saat itu adalah Syeikh ‘Utsman bin Muhammad al Khumais. Aku memintakan izin kepada beliau agar Syeikh Utsman diperkenankan untuk ikut datang. Beliaupun mengizinkannya. Pertemuan ini kunilai dalam hidupku sebagai pertemuan yang sangat istimewa. Setiap kali, Aku mengingatnya aku banyak-banyak mengucapkan alhamdulillah.

Setelah beberapa tahun, beliau masih saja mengajar. Beliau juga memiliki dauroh ilmiah (semacam training, pent) selama liburan musim panas. Kutulis beberapa memo khusus yang ditujukan kepada beliau untuk beberapa orang yang hendak mengikuti dauroh tersebut agar beliau bisa memberikan tempat tinggal di asrama para peserta dauroh selama kajian liburan musim panas kepada orang yang membawa memo tersebut.

Di antara orang yang kukirim agar belajar langsung kepada beliau adalah Muhammad Khalil. Dia adalah seorang penuntut ilmu dari Nigeria. Sebelumnya dia belajar agama di Kuwait. Dia adalah seorang yang lembut, suka tersenyum dan bercanda. Syeikh Ibnu Utsaimin pun terkadang bercanda dengannya.

Dia sendiri pernah bercerita kepadaku bahwa Syeikh Ibnu Utsaimin suatu hari pada saat kajian pernah bertanya kepadanya, “Wahai Muhammad Khalil apakah dulu ketika di Kuwait engkau sudah pernah belajar (baca:ngaji) dengan Syeikh (baca:ulama) di sana?”. Muhammad Khalil menjawab, “Ya, sudah pernah. Aku ngaji dengan Syeikh Salim bin Saad ath Thawil”. Seketika Syeikh berkata, “Jika demikian, engkau adalah cucuku!!”. Sambil guyon, Muhammad Khalil mengatakan, “Jika syeikh apakah engkau pernah menikah dengan seorang perempuan Nigeria?!”. Kontan, syeikh tertawa.

Ketika Muhammad Khalil menyampaikan hal tersebut kepadaku maka aku sangat bahagia karena berarti beliau menganggapku sebagai anaknya.

Demi Allah, sungguh beliau itu lebih dari pada seorang ayah. Jika seorang ayah mengajari anaknya bagaimana cara makan, minum, istinja’, dan berbicara maka beliau mengajari anak didiknya tauhid, ibadah, akhlak, perilaku luhur, adab, berbuat baik kepada orang lain dan menjaga hubungan kekerabatan. Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan,

إن فضل الشيخ على الطالب أكبر من فضل الأب على ابنه!!

Sesungguhnya jasa seorang guru kepada muridnya itu lebih besar dibandingkan jasa seorang ayah kepada anaknya” (Koran al Wathon Kuwait, Senin 17 Maret 2008 melalui http://www.al-sunna.net/articles/file.php?id=1163 )

http://ustadzaris.com/ulama-pun-bisa-bercanda



Read More...
 

Video dan Terjemahan Inggrisnya (Hukum Gambar):

Daftar Blog Saya

Followers