Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh Mufti Arab Saudi

Rabu, 17 Februari 2010

Mengambil Ilmu dari Orang yang Di “Jarh”


Penanya : Ya Syaikh! Apakah kita mengambil ilmu dari seseorang yang di jarh (cela) wahai Syaikh? Apakah bisa diambil ilmu darinya?

Pembawa acara : Orang yang bagaimana?

Penanya : Mujarrah (orang yang di cela untuk dijauhi)

Pembawa Acara : Mujarrad ?

Penanya : Mujarrah (orang yang di cela)

Pembawa Acara : Baik, apa pertanyaan anda?

Penanya : Apakah boleh mengambil ilmu dari nya Wahai Syaikh?

Pembawa acara : Baik, siapa yang menjarh orang tersebut

Penanya : Syaikh Rabi

Pembawa acara : Terimakasih.Salam.Hayyakallah.
Penuntut ilmu wahai Samahatusy Syaikh! Tatkala diberitakan kepadanya baik dari yang orang yang dapat dipercaya atau tidak ,bahwa fulan telah di cela (di jarh) atau dilarang untuk diambil ilmu darinya,bagaimana wahai Syaikh?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh hafidzahullah: Akhi! Perkara seperti ini terkadang adalah hawa nafsu, menjarh manusia,mencelanya terkadang penyebabnya adalah hawa nafsu dan kemaslahatan personal.Dan saya tidak suka memasuki perkara seperti ini.Saya katakan : Thulabul Ilmi diharapkan darinya kebaikan-kebaikan,apabila kita merasakan sesuatu dari kesalahan seseorang, maka berdialoglah jika mungkin,atau kita tanyakan kepada orang yang kita percayai dari kesalahan ini.Adapun menjarh manusia,mencela dan mendeskreditkan dan memilah manusia dengan (mengatakan) orang ini tidak pantas dan ini baik,maka kebanyakan dari perkara seperti ini adalah hawa nafsu , mencela seorang muslim adalah kefasikan ,dan menghormati martabat seorang muslim adalah wajib.

Pembawa acara : Jazaakumullah khair Samahatus Syaikh

Sumber video suara dan gambar selengkapnya : moftie (size 1,5 mB) , acara tanggal 1 januari 2010


http://www.direktori-islam.com/2010/02/mengambil-ilmu-dari-orang-yang-di-jarh/


Read More...

Syaikh Al-Albani & Guru-gurunya

Minggu, 07 Februari 2010


Dapat Hidayah Lewat Majalah

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani pernah menceritakan awal mula beliau mendapat hidayah untuk menekuni sunnah dan mempelajarinya yang hal ini terjadi pada saat beliau kurang lebih berusia dua puluh tahun.

Beliau berkata, “Suatu hari aku melihat salah satu edisi majalah al Manar di antara sejumlah buku yang terpampang di salah satu toko buku. Akhirnya majalah tersebut aku buka-buka. Di majalah tersebut aku jumpai suatu artikel yang ditulis oleh Sayid Rasyid Ridha yang berisi deskripsi buku Ihya Ulumuddin karya al Ghazali. Dalam artikel tersebut penulis menyebutkan sisi-sisi positif dan negatif yang dimiliki oleh buku tersebut. Itulah pertama kalinya aku membaca suatu tulisan yang memuat kritikan ilmiah. Artikel tersebut mendorongku untuk membaca semua artikel yang ada di edisi tersebut.

Kemudian aku berusaha untuk mengikuti topik takhrij (telusur hadits) al Hafizh al Iraqi untuk kitab Ihya Ulumuddin. Aku ingat ketika itu aku berusaha untuk menyewa edisi majalah tersebut karena aku tidak punya uang untuk membelinya. Aku demikian tertarik dengan takhrij hadits yang demikian jeli itu sehingga aku bertekad bulat untuk menyalinnya”.

Pada akhirnya, Syeikh al Albani menyalin kitab tersebut yaitu takhrij ihya karya al Iraqi yang judul lengkapnya adalah al Mughni ‘an Hamli al Asfar fi al Asfar fi Takhrij maa fi al Ihya min al Akhbar. Beliau salin buku tersebut dengan tulisan beliau yang bagus dan teliti. Beliau susun bagian-bagian buku tersebut dengan sangat bagus. Inilah aktivitas beliau yang pertama terkait dengan hadits. Salinan takhrij Ihya ini masih ada di perpustakaan pribadi beliau hingga saat ini.

Mulai dari sinilah Syeikh al Albani memiliki hubungan yang erat dengan majalah al Manar dan artikel-artikel seputar hadits yang ada di dalamnya. Beliau sangat tertarik dengan artikel-artikel tersebut yang akhirnya mendorong beliau untuk tertarik dengan ilmu hadits, cinta dengan buku-buku hadits dan sangat perhatian untuk mempelajari dan mengkaji buku-buku hadits dengan penuh semangat.
Beliaupun berhasil menguasai ilmu hadits dengan sebab anugrah yang Allah berikan berupa pikiran yang tokcer, kecerdasan yang jarang dijumpai dan ketekunan yang luar biasa.

Jika beliau sudah mendapatkan uang yang memadai kebutuhan pokok beliau dari pekerjaan yang beliau tekuni yaitu reparasi jam, beliau berhenti bekerja lalu menyibukkan diri dengan ilmu. Kedai reparasi jam beliau pun berubah menjadi tempat pertemuan para penuntut ilmu.

Subhanallah, bagaimana mungkin ilmu hadits bisa menguasai hati dan pikiran pemuda ini padahal dia tumbuh besar di lingkungan yang semarak dengan ilmu dan ketaatan dalam beragama namun demikian fanatik dengan mazhab fiqh tertentu. Bahkan ayahnya sendiri ketika melihat ketekunan beliau mempelajari ilmu hadits berkomentar, “Hai Muhammad, ilmu hadits adalah kesibukan orang-orang yang bangkrut”.

Ketika ahli sejarah dan pakar hadits dari negeri Halb, Suria yaitu Syeikh Muhammad Raghib al Thabakh melihat betapa menonjolnya pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani dan ketekunannya untuk mempelajari ilmu hadits beliau memberikan kepada pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani ijazah untuk semua kitab hadits yang beliau miliki ijazahnya. Daftar buku-buku hadits yang beliau ijazahkan disebutkan dalam buku tipis yang ditulis oleh beliau sendiri yaitu Muhammad Raghib al Thabakh yang berjudul al Anwar al Jaliyyah fi Mukhtashar al Atsbat al Halabiyyah.

Yang dimaksud ijazah dalam hal ini adalah izin seorang guru kepada muridnya untuk mengajarkan buku yang pernah dipelajari oleh sang guru dari guru dan demikian seterusnya sampai kepada penulis buku tersebut.

Bukanlah rahasia lagi bahwa Syeikh al Albani sering berkata tentang ijazah yang pernah beliau dapatkan ini, “Ijazah tersebut sedikitpun tidaklah menarik perhatianku. Ijazah tersebut hanya aku gunakan untuk membantah orang-orang yang dengki” (Lihat Muhaddits al ‘Ashr karya Sumair bin Amin az Zuhair hal 13-14, terbitan Dar al Mughni).


http://ustadzaris.com/dapat-hidayah-lewat-majalah

Read More...

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi

Sabtu, 06 Februari 2010

Ditulis Oleh: Al Aisar


Beliau adalah Shaikh ' Abdul-'Aziz Bin ' Abdillaah Bin ' Abdir-Rahmaan Ar-Raajihee

Beliau dilahirkan di kota Al-Bukairiyah, bagian dari Wilayah Qaseem ( Saudi Arabia) pada tahun 1360 H . Beliau tumbuh kota Al-Bukairiyah dan belajar/menuntut ilmu dari Ulama-ulama di Kotanya. beliau menghafalkan Qur'an dan mempelajarinya dari tingkat awal . Shaikh Ar rajihi tumbuh di dalam keluarga yang saleh. Kemudian, ia pindah ke kota Riyadh dan mendaftarkan diri untuk belajar di Universitas Imaam Muhammad Su'ud dalam jurusan Syariah,. Beliau kemudian lulus kemudian mengajar di jurusan Usuluddin, beliau sampai menjabat asisten profesor di jurusan ini.

Beliau berguru kepada sejumlah ulama di Al Bukairiyah dan sejumlah ulama senior di Riyadh, diantaranya :

1. Shaikh ' Abdul-'Aziz bin Baaz –-rahimahullah- .Syaikh Al rajihi belajar dan mendampingi syaikh bin Baaz dimulai dari saat Syaikh bin Baaz datang ke Riyadh dari Madinah hingga Syaikh Bin Baaz wafat- semoga Alloh Azza wa Jalla merahmati beliau- . Syaikh Ar rajihi banyak mengambil manfaat dari kebersamaanya dengan Syaikh bin Baaz--rahimahullah- diantaranya cara syaikh bin baaz –-rahimahullah- mengajar dan menjelaskan kitab-kitab dari ulama yang sedang beliau ajarkan.

2. Shaikh ' Abdullaah bin Humaid , beliau adalah ketua hakim agama (qodhi) ketika itu.

Syaikh Ar rajihi sangat bersemangat dan aktif dalam mendidik dan mendakwahkan ilmu. Diantaranya dengan meneliti kitab-kitab dan juga membimbing karya ilmiyah mahasiswa-mahasiswa yang akan menempuh ujian master dan doktor di bidang akidah dan perbandingan agama di tempat beliau mengajar. Selain itu beliau juga sibuk memberikan tahqiq dari kitab Syaikhul islam Ibnu taimiyyah -rahimahullah- yaitu “ Al Bayaan Talbis Al Jahmiyyah” ,kitab ini akan segera terbit, Insya Alloh demikian pula beliau sedang mentahqiq dan meneliti kumpulan syi’ir dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah yang berjudul “Al Kaafiyah As Shaafiyah.”
Jadual setiap mingga Syaikh Ar rajihi sangat padat, beliau memgajar beberapa kitab dalam setiap hari dalam seminggu, diantaranya :

1. Ahad, Senin, Rabu dan kamis, beliau mengajar setelah Sholat shubuh di Masjid Sultan di Rabwah .

2. Ahad, dan senin setelah Sholat Maghrib beliau mengajar di Masjid Rajihi.
Beliau juga berceramah di radio, yang sebelumnya telah direkam dari kantor beliau di Rabwah setiap hari jumat.

Beliau juga aktif ikutserta dalam seminar-seminar pendidikan/dakwah di Kota Riyadh. Beliau juga memberikan pelajaran di Masjidil haram.

Kitab-kitab yang telah dan sedang beliau baca dan ajarkan dalam majelis beliau (yaitu untuk keperluan hafalan, kajian kitab, lughoh dalan lainnya) yaitu :

1. Hadits:

Saheeh Al-Bukhaari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawood, Sunan At-Tirmidzi,Sunan An-Nasaa’i, Sunan Ibn Maajah, the Muwatta’ Imaam Maalik, Sahih Ibn Khuzaimah, Bulughul-Maraam, and Riyadh-us-Saalihin, Nukhbatu ul Fikr

2. Aqidah

Kitaab at-Tawhid dan semua risalah Imam Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- Kitaab at-Tauhid Imam Ad-Daarimi dan Kitab At Tauhid Imam Ahmad; Risalah al-Hamawiyyah, at-Tadmuriyyah, al-‘Aqidah al-Waasitiyyah dan Majmu Fataawaa Shaikh-ul-Islaam Ibn Taimiyyah; Al-‘Aqidah as-Safariniyah; Al-‘Aqidah at-Tahaawiyyah, dan Lum’at-ul-‘Itiqaad

3. Tafsir

Tafsir Ibn Katsir

4. Fiqh:

‘Umdat-ul-Fiqh; Al-Waraqaat

5. lughoh bahasa arab:

Ar-Rahbiyyah; Al-Ajroomiyyah

Sebagai catatan:

Cukup satu saja sebagai rujukan yang membuktikan keilmuan beliau yakni di dalam pendahuluan kitab karya Syaikh rabi bin hadi Al madkhali,”Metodologi Ahlus Sunnah dalam mengkritik individu, buku dan aliran “. yang judul aslinya adalah : Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah fi Naqdir rijal, wa Al Kutub Wa thaifah” . dalam pendahuluan kitab ini dapat diketahui tingginya kedudukan beliau dan kedekatannya dengan para ulama. yakni ketika Syaikh Robi meminta Syaikh Abdul Aziz bin Baaz melalui surat beliau untuk meneliti dan mengomentarai naskah kitabnya tersebut (sebagaimana kebiasaan para ulama ketika setelah menulis buku, maka meminta kepada ulama yang lebih berilmu dan senior untuk memberikan komentar dan koreksi terhadap tulisannya –red), namun Syaikh Abdul Aziz bin Baaz meminta Syaikh Ar Rajihi untuk mengoreksi,review,muroja’ah dan meringkasnya dengan ringkasan yang bagus kitab karya syaikh Robi ini dan memberikan hasil penilaiannya kepada Syaikh Bin Baaz -rahimahullah-

Setelah Syaikh Ar rajihi meringkas dan mengoreksi kitab ini kemudian menyerahkan kembali ke Syaikh bin Baaz -rahimahullah- , Syaikh Abdul Aziz bin Baaz membalas surat permohonan syaikh Robi dengan perkataan,” Saya memberikan rekomendasikan kepada anda berupa risalah jawaban dari Syaikh Abdul Aziz Ar rajihi mengenai naskah kitab anda “Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah fi Naqdir rijal, wa Al Kutub Wa thaifah “ Saya telah mempersilahkan beliau untuk mengoreksinya karena tidak ada kesempatan bagiku (karena sibuk-red) untuk mengoreksinya. Jawabannya membuat saya senang, dan saya senang dengan apa yang anda tulis didalamnya.”

Dari sini dapat disimpulkan :

1.Shaikh Ar-Raajihi memiliki hubungan yang erat dengan ulama-ulama senior

2. Imaam Ibn Baaz percaya atas kemampuan beliau

3. Shaikh Ar-Raajihi memiliki manhaj dan aiqdah yang lurus

Kecintaan beliau terhadp Ilmu dan semangat beliau untuk memberikan nasehat, murojaah terhadap tulisan ulama lainnya

Saat ini beliau masih sibuk mengajar dan berdakwah, serta menjadi anggota Hai’ah Kibarul Ulamaa, Semoga Alloh Azza wa Jalla tetap menjaga beliau.


lebih lanjut link saja ke www.sh-rajihi.com


http://al-aisar.com/content/view/157/414/

Read More...