Kenanganku Awal Kali Bertemu Ahli Hadits Abad Ini
Syaikh Al-Albani
Oleh : Asy-Syaikh Hamdi Abdul Majid as-Salafi
Saya lulus dari sebuah sekolah agama di Kurdistan. Belajar kepada para ulama, ilmu nahwu, sorof, ilmu mantiq, ilmu balaghah, ilmu kalam, ilmu ushul al-fiqh dan ilmu fikih berdasarkan madzhab imam Syafi’i dan tafsir saya pelajari dari mereka, sesuai dengan metode pelajaran yang biasa diterapkan para ulama di Kurdistan. Akan tetapi dari semua syaikh yang mengajariku, ada satu syaikh yang sangat berkesan di hatiku, yaitu syaikh Ismail Ilyas al-Kurdi.
Hal ini dikarenakan beliau seorang yang berdakwah “memerangi” bid’ah dan khurafat dengan metode para ulama madzhab Syafi’i terdahulu, semisal Ibnu al-Muqri dalam mengkafirkan pengikut ajaran “Wihdah al-Wujud”. Saya belajar dari syaikh Ismail bagian akhir Tafsir al-Manar, beberapa bab dalam kitab “Nailul Authar” (kitab hadits), dan beberapa bahasan dalam kitab “Minhaj as-Sunnah”. Sebelumnya saya tidak mengetahui buku-buku tersebut.
Diantara bahasan yang saya baca dan saya pelajari dari syaikh yaitu pujian sebagian ulama pada kitab “al-Muhalla” ( المحلى ) dan kitab “al-Mughni” ( المغني ) karya Ibnu Qudamah, dan kitab “Fath al-Baari” ( فتح الباري ) karya al-Hafidh Ibnu Hajar, saya pun berusaha untuk mendapatkan kitab-kitab tersebut.
Pada suatu hari, aku pergi ke kota “Diirik” ( ديريك ) salah satu kota di Syiria, untuk mengunjungi salah satu pelajar yang masih bertalian saudara (denganku), untuk mengecek kondisinya. Saat itu ada salah seorang guru mengundangku makan siang di rumahnya. Dia tinggal di kota Damaskus sebatangkara tanpa ada keluarga yang menemaninya. Akupun pergi bersamanya menuju kediamannya. Saat di rumahnya dia memperlihatkan majalah “at-Tamadun al-Islamiy” agar saya membacanya sampai makan siang siap terhidangkan. Lembar demi lembar aku buka edisi majalah itu, saat itu pandanganku “jatuh” pada sebuah judul “hadits-hadits lemah dan palsu, serta pengaruhnya yang buruk dalam umat ( الأحاديث الضعيفيه والموصوعة وأثرها الشيء في الأمة ). Dengan serius saya baca bahasan itu. Artikel itu mengulas sebuah hadits palsu yaitu ( اختلاف أمتي رحمة ) “Perselisihan umatku adalah rahmat”
Rasa kekaguman terhadap bahasan ini muncul dalam diriku. Penulis bahasan ini adalah “Muhammad Nashiruddin Nuh Najati al-Arnauth ( محمد ناصر الدين نوح نجاتي الأرناؤوط ). Saat itu saya belum mengenalnya, lalu guru yang mengundangkan makan siang datang dan bertanya: “Apakah bahasan itu menarik bagimu?” aku jawab: “Ya, sangat menarik”. Ia bertanya: “Apakah anda ingin berlangganan majalah itu?” aku jawab: “Bagaimana caranya?” Dia menjawab: “Saya mengenal pimpinan redaksi majalah itu, namanya Ahmad Madhar al-Adhomah ( أحمد مظهر العظمة ) -rahimahullah-, saya akan menulis surat padanya agar dia mengirimkan edisi majalah itu secara rutin kepadamu. Dan benar majalah itu terkirim ke alamatku.
Pada musim gugur 1954 M, aku berhasil mengumpulkan uang, akupun ingin membeli kitab “Fath al-Baari”, akan tetapi dimana saya dapat membelinya? Tempat tinggal saya jauh di ujung timur negara Syiria, dan tidak ada toko buku. Maka akupun berketetapan hati untuk pergi ke kota “Halab” ( حلب ) untuk membeli buku-buku di toko buku “Hamid Ajan al-Hadid”. Sesampai di sana aku diberitahu bahwa kitab yang saya ingin beli tidak ada, dan penjualnya berkata mungkin di toko buku “al-Arabiyah” ada. Pergi ke Damaskus mencari toko buku yang disebut, itulah yang kulakukan. Hingga saya tiba di toko itu dan bertemu dengan seorang yang bernama Hamdi Ubaid -rahimahullah-. Setelah berbicara sejenak dengannya, dia menanyakan nama saya. Saya katakan : “Namaku seperti namamu”. Ia pun senang mendengarnya. Akan tetapi ia berkata: “Sayang sekali, kitab yang anda inginkan tidak ada di toko kami, mungkin ada di Beirut.”
Lalu dia bertanya: “Apa yang anda inginkan dari kitab itu?” Saya katakan: “Saya mendengar kitab itu adalah syarah (penjelas) kitab Shahih Bukhari, saya ingin membaca dan mengambil faedah darinya.”
Dia bertanya: “Apakah anda kenal Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani?” aku jawab: “Tidak”. “Apakah anda ingin berkenalan dengannya?” tanyanya. Aku jawab: “Apakah dia seorang yang pernah menulis di majalah at-Tamadun al-Islamy”. Ia menjawab: “Benar”. Akupun berkata: “Saya ingin bertemu, namun bagaimana caranya?” dia menjawab: “Saya akan atur agar anda dapat bertemu dengannya”. Dia mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan Syaikh al-Albani.
Tidak lama kemudian saya lihat seorang Eropa berambut blonde turun dari sepeda di depan toko buku, ia mengenakan baju jubah besar, ia pun masuk dan mengucapkan salam pada kami lalu duduk. Kemudian dia bertanya kepadaku beberapa pertanyaan. Setelah itu dia mengajakku untuk pergi ke tokonya, yaitu toko “reparasi” jam.
Kemudian dia minta kepadaku untuk bertamu di rumahnya. Setelah makan, dia bertanya kepadaku: “Apakah anda ingin hadir dalam pengajian kita, yang diadakan setiap malam di rumah salah seorang ikhwan, pengajian itu di hadiri para penuntut ilmu agama dari berbagai tingkatan?”
Aku menjawab: “Ya”. Setelah itu saya memberikan nama hotel dan nomor kamar tempat saya menginap. Setelah shalat Isya, salah seorang ikhwan datang dan menemaniku pergi ke tempat pengajian. Hal ini berlangsung seminggu. Kemudian aku pergi ke Beirut membeli kitab “Fath al-Baari”, dan saya lihat uangku akan habis maka aku minta izin kepada Syaikh al-Albani untuk pulang ke kotaku.
Pada saat musim panas tahun 1955, datang sepucuk surat dari Syaikh al-Albani yang meminta kepadaku agar aku mengurus pasport Syiria. Beliau membantuku agar dapat melanjutkan belajar di Saudi Arabia. Akupun berusaha agar dapat memperoleh pasport namun gagal. Hingga habis waktu, lalu Syaikh al-Albani berkata kepadaku, tahun depan saya akan mengirimmu.
Akan tetapi saya tetap pergi pada musim panas itu juga menghadiri pelajaran Syaikh al-Albani selama lebih kurang seminggu atau lebih. Demikianlah tahun berikutnya berlalu. Lalu aku pindah dari Syiria ke Iraq paad akhir tahun 1957 untuk mencari penghidupan.
Penjelasan Syaikh dalam menerangkan pelajaran amat berkesan bagi diriku. Bagi saya, pelajaran-pelajaran Syaikh adalah ilmu yang belum saya ketahui sebelumnya, bahkan belum saya dengar.
Duduk menyimak pelajaran Syaikh, itulah yang saya lakukan, saya ingat saat itu kitab yang dipelajari adalah kitab “ar-Raudhah an-Nadiyyah” karya Muhammad Siddiq Hasan Khan. Saya salin penjelasan Syaikh yang terletak di bagian kosong kanan dan kiri halaman kitab miliknya dengan pensil di buku tulis saya, dan sampai saat ini masih terpelihara. Saya juga membaca karya-karya Syaikh al-Albani yang masih tertulis dengan tulisan tangan, seperti “ar-Raudh an-Nadhir”, “at-Ta’liqat al-Jayyad”, “ash-Shifat Shalat Nabi“, “Tamam al-Minnah”, saya nukil sebagian cetakan yang berfaedah dari kitab-kitab itu tatkala berada di toko milik Syaikh al-Albani.
Saya merenungkan ilmu yang saya peroleh dari Syaikh al-Albani, dan ilmu yang ada pada kami, dimana kami bukan di atas jalan kebenaran, tidak ada tujuan jelas dari pelajaran-pelajaran yang kami dapatkan sebelumnya. Setelah itu tiba-tiba saya melihat “sebuah madrasah” yang lengkap baik itu ilmu fikihnya, hadits, tafsir, manhaj yang terbangun di atas dasar “Salafus Shalih”. Maka hal ini menggerakkan hatiku untuk selalu ingin tahu karya-karya syaikh, hingga akhirnya saya memiliki seluruh karya-karya Syaikh al-Albani.
Dari membaca karya-karya Syaikh al-Albani saya mengetahui “keagungan dakwah salafiyah” yang beliau dakwahkan, dan hebatnya cara beliau dalam mengulas sanad-sanad, mengumpulkan hadits-hadits yang sanadnya mempunyai keterkaitan, serta pengambilan hukum yang sesuai dengan ilmu “musthalah al-hadits”, dan juga amat cermatnya beliau dalam menguraikannya, semua itu akan mengingatkan kita pada tulisan-tulisan para ahli “kritik” hadits semisal ad-Daruquthni, al-Hafidh Ibnu Hajar, dan para cendikiawan hadits lainnya.
Beliaulah yang menghidupkan ilmu hadits pada zaman kita ini – dan semua itu dengan bimbingan Allah ta’ala- dan penyebab tersebarnya serta diterimanya ilmu hadits oleh masyarakat, penyebab “kebangkitan hadits” yang mengingatkan kita pada apa yang telah di lakukan ahli hadits pada masa awal-awal. Semua ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada syaikh al-Albani, dan kepada umat Islam pada zaman ini.
Apa yang telah dipersembahkan Syaikh al-Albni berupa penyebaran hadits-hadits Nabi, serta memisahkan antara hadits shahih dari hadits yang palsu maupun lemah membuat sebagian orang dengki memusuhi beliau, bahkan memusuhi dakwah salafiyah.
Lalu tuduhan-tuduhan dari para pendengki Syaikh al-Albani semakin beraneka ragam, sesuai hawa nafsu dan tujuan mereka. Diantara mereka ada yang melontarkan tuduhan bahwa beliau adalah seorang wartawan dan tidak pernah belajar kepada para ulama, ada juga yang menuduh beliau seorang fanatik golongan (hizbi) sesuatu yang selalu diingkari Syaikh al-Albani dalam setiap pertemuan, diantara mereka ada yang menuduh beliau tidak mengerti ilmu fikih dan tuduhan-tuduhan lainnya.
Sebab mendasar tersebarnya ilmu hadits adalah dakwah Syaikh al-Albani di Universitas Islam Madinah tatkala beliau menjadi dosen, dimana beliau bertemu dengan ribuan penuntut ilmu dan mereka belajar dan mengambil ilmu hadits, fikih, manhaj salaf yang bersih yang senantiasa beliau dakwahkan dengan istilah “tasfiyah wa tarbiyah”, serta memahami teks-teks al-Qur`an dan hadits dengan pemahaman salafus shalih.
Akhirnya semoga Allah memberi petunjuk kepada para dai dan penuntut ilmu kepada hal-hal yang diridhai-Nya yaitu berdakwah dengan dakwah salafus shalih.
Diterjemahkan dari Majalah al-Ashalah jilid 24 hal 83-85 oleh Abu Hasan Arif.
http://makalahku.wordpress.com/2009/03/31/4zuwn3dph5/#more-34



0 komentar:
Poskan Komentar